Langkah Hukum Jamaah Haji Jepang 2019

Dikutip dari status dalam grup Facebook Indonesia Community Japan.

Tokyo, 17 September 2019.

Pemberitahuan untuk Komunitas Indonesia di Jepang (Indonesian Community in Japan/ICJ) Dari Jamaah Haji Jepang 2019

Tentang

Kami atas nama jamaah haji Jepang yang berangkat tahun 2019 menggunakan jasa Air 1 Travel Japan dengan ini menyampaikan bahwa kami sedang mengambil langkah-langkah hukum terhadap Air1 Travel Japan atas kinerjanya dalam memberikan pelayanan terhadap jamaah haji Jepang.

Langkah-Langkah Hukum Jamaah Haji Jepang 2019 terhadap Air1 Travel Japan atas kinerja penyelenggaraan haji tahun 2019 oleh Air1 Travel Japan

Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Bahwa dalam promosinya di pamflet haji Air1 Japan dijelaskan terdapat 2 paket: paket A senilai ¥580.000 dan paket B ¥650.000. Paket ini lebih tinggi dari paket tahun sebelumnya yaitu A ¥500.000 dan B ¥570.000. Selain itu, Paket 2019 ini lebih tinggi dan termahal dibanding tawaran paket dari travel-travel lain di Jepang. Paket tersebut tergolong sebagai paket VIP. Selama ini Air1 Travel Japan menggunakan maktab 96 seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebelum berangkat ke Tanah Suci semua jamaah dibagikan name tag yang mencantumkan nomor maktab 96.

Ketika di Madinah jamaah ditempatkan di hotel yang lebih jauh dari salah satu travel lain asal Jepang yg lebih murah harga paketnya. Selain itu jamaah travel tersebut dialokasikan dengan huniannya rata-rata 3 (tiga) orang dalam satu kamar. Sedangkan kami dialokasikan rata-rata 4 (orang) satu kamar. Bahkan ada yang 6 (enam) orang dalam satu kamar.

Selanjutnya, ketika sampai di Mekkah jamaah haji diberikan lagi name tag dengan nomor maktab 4 padahal sejak dari Jepang jamaah diberikan name tag dengan nomor Maktab 96. Ternyata maktab 4 mayoritas dihuni jamaah haji asal Indonesia dan lokasinya di Mina Jadid yang tergolong terjauh dari jamarat yaitu sekitar 4,4 km dibanding maktab 96 yang lebih dekat jamarat yaitu sekitar 2,2 km. Kapasitas yang tersedia dalam tenda di maktab 4 di Mina jauh dari memadai. Jamaah di dalam tenda berdesakan dan sebagian jamaah baik laki-laki maupun perempuan banyak yang tidur di luar tenda, di gang-gang/koridor antar tenda, bahkan diluar maktab yaitu di pinggir jalan sekitar maktab 4.

Penyediaan makanan di Mina tidak memadai baik kuantitas maupun kualitas, baik pada saat sebelum, maupun setelah ibadah wukuf. Makanan ringan/light meal seperti roti dan buah lebih banyak diberikan sebelum wukuf dengan alasan dari pihak travel agar jamaah tidak sering ke toilet. Setelah wukuf pun kondisi makanan tidak memadai dan kadang jamaah mendapat pemberian makanan dari pihak lain. Bahkan mie instan atau makanan ringan/light meal lainnya diberikan sebagai pengganti menu utama. Sehingga asupan gizi dan energi dalam prosesi penting Haji di Arafah Muzdalifah Mina (Armuna) yang lebih memerlukan energi itu tidak memadai. Kondisi seperti ini sangat buruk terlebih ada jamaah wanita yang sedang hamil. Sementara itu, travel-travel asal Jepang lainnya seluruhnya menempati Maktab 73 yang kondisinya jauh lebih baik dari Maktab 96 dengan penyajian makanan secara prasmanan setiap waktu makan 3x sehari, dan penyediaan snack, kopi, teh dan jus yang tersedia hampir 24 jam.

Tidur di luar tenda Mina

Diketahui pula informasi dari beberapa jamaah asal Indonesia yang berada di Maktab 3 dan/atau 4 bahwa ONH/Ongkos Naik Haji mereka bervariasi nilainya sekitar sepertiga dari paket kami. Namun mereka mendapat pelayanan yang lebih baik, makan yang layak, dan tidur di dalam tenda.

Gudang makanan di Mina

Pada pelaksanaan wukuf di Arafah, tenda yang digunakan hanya dilengkapi dengan kipas angin. Padahal travel dari Jepang lainnya mampu menyediakan tenda dengan AC dan ruangan yang nyaman dengan sofà bed beserta makanan yang lebih baik.

Saat mabit di Muzdalifah, jamaah disisipkan di maktab 12 Dengan kondisi berdesakan dengan jamaah reguler asal Indonesia. Padahal bila ditempatkan di maktab 96 tentu akan lebih baik kondisinya dengan karpet seperti tahun-tahun sebelumnya.

Transportasi dan perpindahan jamaah dari Arafah ke Muzdalifah juga menjadi kendala karena bis yang terbatas sehingga harus menunggu berjam-jam.

Berdasarkan informasi yang kami kumpulkan dari pertemuan antara jamaah dengan pihak muasasah dan/atau muthawif terkait pelayanan tersebut, kami mendapatkan informasi bahwa Air1 Travel tidak mengambil pilihan paket VIP yang tersedia dan hanya mengambil fasilitas yang minimalis. Sebagai akibatnya adalah Air1 Travel tidak dapat mempertahankan maktab 96 yang selama ini menjadi maktabnya.
Perpindahan angka maktab dari 96 ke 4 lalu ke 12 lalu ke 4 lagi menunjukkan Air1 Travel seperti tidak memiliki maktab tetap. Seharusnya maktab itu sama nomornya dari awal hingga akhir prosesi haji.

Dengan tidak diperolehnya paket maktab yang sesuai dengan harapan jamaah mengakibatkan pelayanan terhadap jamaah menjadi jauh menurun dan tidak sesuai program yang dijanjikan. Padahal seluruh jamaah telah membayar dengan biaya lebih mahal dibanding travel lainnya, dengan ekspektasi pelayanan setidaknya lebih baik seperti tahun-tahun sebelumnya. Jamaah semakin kecewa setelah mengetahui bahwa ada travel asal Jepang lainnya dengan paket lebih murah namun pelayanan yang bahkan lebih tinggi dari maktab 96.

Bahwa untuk penerbangan Tokyo-Jeddah, mayoritas jamaah Jepang diberikan layanan dengan Air India. Pada saat berangkat jamaah transit satu malam di New Delhi di hotel yang bahkan bus tidak dapat memasuki jalan menuju hotel sehingga jamaah diturunkan di persimpangan jalan lalu naik kendaraan semacam bajai dengan membawa koper besar masing-masing. Pada saat meninggalkan New Delhi pun kami harus jalan kaki cukup jauh sekitar 700 meter menuju jalan besar tempat bus tersedia karena bus tidak dapat memasuki jalan menuju hotel. Hal ini cukup membahayakan karena jamaah harus beberapa kali menyeberang jalan raya.

Bajaj India

Sekembalinya dari Jeddah menuju Tokyo, jamaah harus transit di India melalui Hyderabad, Mumbai dan New Delhi. Di Hyderabad jamaah tidak turun pesawat. Lalu di jalur Mumbai ke New Delhi permasalahan muncul karena Mumbai – New Delhi adalah jalur domestik sehingga seluruh jamaah harus melalui imigrasi dan keluar mengambil bagasi, lalu pindah ke jalur domestik. Hal ini Sangat merepotkan karena harusnya penerbangan jarak jauh international tidak perlu melalui jalur domestik. Terlebih dalam perjalanan pulang ini tidak menginap di New Delhi tetapi hanya transit maraton Hyderabad, Mumbai, New Delhi. Dalam penerbangan Mumbai – New Delhi pesawat delay hingga 3 jam lebih karena banyak permasalahan saat transit yaitu bagasi dan jamaah yg tidak ada Visa India namun transit domestik di India. Sehingga beberapa jamaah tersebut ditolak masuk India dan terpaksa harus membeli lagi tiket pesawat pulang dari Mumbai ke Jepang dengan uangnya sendiri. Dan parahnya, tidak ada staff Air1 yang mendampingi mereka. Perjalanan pulang kami memakan waktu lama mulai berangkat dari tanggal 22 Agustus malam, dan tiba di Narita pada tanggal 24 Agustus pagi, akibat banyaknya transit yang ribet, tidak perlu (domestik), dan sangat melelahkan. Sementara itu jamaah Jepang dari travel lain bisa mendapat penerbangan lebih baik padahal harga paket lebih murah.

Pelaksanaan seluruh prosesi haji dari Air1 Travel Japan, Air1 Travel Hongkong, Air1 Travel Korea, Golden Bridge Korea, dan Bukhari Travel Korea digabung menjadi satu. Koordinasi tidak berjalan dengan baik. Jamaah dikelompokkan berdasarkan Bahasa Ibunya yaitu Bahasa Indonesia, Usbekistan dan Urdu. Jamaah minoritas seperti yang berbahasa Jepang dan lainnya tidak mendapat pelayanan bimbingan yang memadai.

Pemandu haji yang disediakan Air1 Travel Japan tidak memadai karena hanya disediakan satu Ustadz dari Jepang yang pada prakteknya hanya fokus kepada jamaah berbahasa Urdu/Asia Selatan karena berasal dari Asia Selatan sehingga jamaah berbahasa Indonesia dan Jepang tidak terbimbing dengan baik. Pemandu haji mukimin berbahasa Indonesia yang disediakan pada prakteknya lebih fokus ke jamaah berbahasa Indonesia dari Air1 Korea. Satu lagi pemandu haji berbahasa Indonesia hanya fokus untuk jamaah berbahasa Indonesia dari Air1 Hongkong.

Mengingat jumlah jamaah Air1 Travel grup secara total dari tiga negara Japan-Hongkong-Korea adalah hampir mencapai 700-an orang dengan jumlah pemandu yang terbatas, maka jamaah Jepang berbahasa Indonesia dan berbahasa Jepang tidak terlayani dan terabaikan. Ustadz pembimbing dari Jepang yang mampu berbahasa Jepang pun lebih membimbing grup berbahasa Urdu (India/Pakistan/Bangladesh). Kondisi seperti ini sangat buruk terutama untuk wajah dakwah bagi para Mualaf Jepang.

Dari hal-hal tersebut diatas patut diduga kuat bahwa pembayaran paket kami yang lebih mahal kepada Air1 Travel hanya digunakan secara minimal oleh pihak travel untuk memaksimalkan keuntungan secara berlebihan di luar kepatutan.

Atas kondisi pelayanan yang kami terima tersebut maka kami merasa dirugikan secara materiil dan immaterial. Oleh karena itu kami mengambil langkah-langkah hukum sebagai berikut :

  1. Kami telah melaporkan kasus ini kepada Kementerian Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi dan telah diregister dengan nomor 401217132. Pihak Kementerian Haji dan Umrah sedang menginvestigasi kasus ini dan akan memberitahukan hasilnya.
  2. Kami telah melaporkan hal ini kepada ANTA (All Nippon Travel Agency Asscociation) Japan.
  3. Kami juga akan melaporkan hal ini kepada Ministry Of Land, Infrastructure, Transport and Tourism (MLIT) Japan.
  4. Kami juga akan melaporkan hal ini kepada Consumer Affairs Agency (CAA) Japan sebagai badan perlindungan terhadap konsumen di Jepang.
  5. Kami juga akan melakukan gugatan terhadap Air1 Travel dalam rangka menuntut kompensasi yang layak atas kegagalan Air1 Travel dalam memenuhi pelayanan yang seharusnya kami terima. Sebelumnya kami telah melakukan dua kali somasi di WA Group Japan Hajj 2019. Namun kini WA Group tersebut telah disetting oleh pihak Air1 Travel dengan kondisi hanya admin dari pihak travel yang dapat mengirim pesan sehingga komunikasi antara jamaah dengan travel terhambat.

Demikian hal ini kami sampaikan kepada komunitas Indonesia di Jepang (Indonesian Community in Japan/ICJ) agar diketahui sebagai pertimbangan. Hal ini kami lakukan demi melindungi calon jamaah haji dan demi memperjuangkan hak-hak jamaah haji.

Terimakasih.

Tim Advokasi Jamaah Haji Jepang 2019

Sep19

Leave a Reply