Naluri orang tua

Sebelumnya saya mau cerita dikit ya. hehe.. alkisah ada cerita seperti dibawah ini.

Yak baru-baru ini saya dan teman saya berminat untuk menjebak salah satu mahasiswi di Indonesia untuk berkuliah di Korea. Renacana awal mau di masukkan ke lab teman saya, namun disarankan untuk pindah ke lab saya dengan pertimbangan riset dia yang lebih cocok untuk di lab saya. Pendaftaranpun sudah saya bantu daftarakan, kirim email ke prof juga saya bantu, mengisi formulir pendaftaran juga saya bantu. Namun takdir berkata lain, calon mahasiswi ini tidak bisa di terima di lab saya karena lab saya sudah menerima mahasiswa lain dari Vietnam. Kebetulan juga salah satu kandidat di lab teman saya tiba-tiba mengundurkan diri. sehingga calon mahasiswi ini di kembalikan lagi ke lab tempat dia mendaftar sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba si calon mahasiswi ini mengundurkan diri dengan alasan tidak bisa meninggalkan orang tuanya.

Dari cerita diatas saya mau mengomentari tentang anak yang tidak bisa meninggalkan orang tuanya. Well, in my opinion hal tersebut memang wajar. Sebagai anak mempunyai naluri untuk selalu dekat dengan orang tuanya. Seiring berjalannya waktu, pikiran anak juga akan semakin dewasa dan bisa berpikir bahwa cepat atau lambat akan berpisah dengan orang tua. entah melalui kematian atau menikah. Hal yang samapun berlaku pada orang tua, naluri sebagai orang tua ingin selalu dekat dengan anaknya. Namun, orang tuapun harusnya bisa berpikir kedepan. Jika tidak berpisah dengan anaknya, maka anak tersebut akan selalu bergantung kepada orang tuanya. Orang tua yang baik akan merelakan anaknya pergi di saat yang tepat dan selalu mendoakan dari kejauhan.

Orang tua saya termasuk orang yang memikirkan masa depan anaknya dibandingkan dirinya sendiri. Contohnya, orang tua saya menyekolahkan 2 orang anaknya ke pesantern dengan pertimbangan bahwa peraulan di kota besar sudah terlalu membahayakan, pendidikan agama yang lebih baik, dan tentunya kemandirian. orang tua saya tidak terlalu memikirkan nalurinya yang ingin selalu dekat dengan anaknya, beliau memikirkan masa depan anaknya yang lebih baik. padahal waktu itu anaknya baru kelas 2 SMP loh.

hal yang samapun terjadi pada saya dan adik saya. Adik saya sudah “lepas” dari semenjak kuliahdi Bogor. Sedangkan saya, sejak saya lulus Kuliah. Sekarang saya sedang melanjutkan pendidikan master di Korea. Saya yakin beliau mendoakan saya dari jauh. Berani keluar dari zona nyaman (comfort zone) dengan tidak tinggal denagn orang tua. Namun begitu saya selalu menyempatkan diri untuk memberi kabar sedikitnya sebulan sekali. Biasanya sih 2 minggu sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website