hidup anti mainstream

Melihat judul diatas “hidup anti mainstream” sepertinya ada beberapa orang yang belum tau arti mainstream. Mainstream itu bisa di bilang “biasa” atau “mengikuti arus”. Jadi hidup mainstream itu hidup yang mengikuti arus. Jadi hidup anti mainstream itu hidup yang tidak mengikuti arus. disaat orang lain berbuat A, kita berbuat B.

Hidup anti mainstream saya mulai ketika saya lulus kuliah. Pada saat lulus kuliah ada beberapa pilihan jalan yg bisa di pilih bisa bekerja atau melanjutkan pendidikan. Pada saat itu saya ditawarkan oleh Universitas tempat saya belajar, Universitas Gunadarma untuk melanjutkan pendidikan master(S2) di kampus yang sama dengan biaya kuliah yang sangat murah, yaitu hanya Rp 3jt persemester pada tahun 2008. Dikarenakan saya sudah berminat untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, maka pilihan tersebut tidak saya ambil. Sampai saat ini sepengetahuan saya cuma saya mahasiswa angkatan 2004 di Univ Gunadarma di kalimalang yang melanjutkan pendidikan di luar negeri dan mendapatkan beasiswa. Sisanya: sekitar 90% bekerja, 10% melanjutkan pendidikan di Indonesia.

Hidup anti mainstream saya selanjutnya adalah ketika saya memutuskan ikut berorganisasi di Perpika dan menjadi tutor di UT Korea. Ketika kebanyakan mahasiswa/i di Korea sibuk dengan kegiatan belajar mereka, saya berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekedar ilmu. yaitu belajar berorganisasi. Ketika berorganisasi di Perpika dan tutor di UT Korea, saya memikirkan bagaimana berkontribusi ke masyarakat luas. sesuai moto saya jaman dulu (l)earn and share. dapatkan/belajar dan bagikan. karena hidup sukses sendiri itu ngga asik, alangkah baiknya jika sukses itu bisa di bagi-bagi ke orang lain.

Pada saat saya dikorea, alhamdulilah saya juga bisa merasakan betapa bangga menjadi warga negara Indonesia. Disisi lain Indonesia terkenal dengan korupsi, tetapi disisi llainnya kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam membuat saya bangga. Disini kebetulan ada guru tari Saman yang melakukan Internship program di GIST. Nah ini sebuah peluang bagus yang bisa di manfaatkan. akhirnya saya “kecemplung” untuk ikut melestarikan dan menampilkan salah satu kebudayaan Indonesia dengan menari Saman.

Anti mainstream yang selanjutnya adalah, ketika saya lulus master dari Korea, saya akan membuat usaha saya sendiri. disaat orang lain sibuk bekerja dan patuh pada atasan, saya ingin membuat diri saya menjadi atasan dengan jalan wirausaha. Saya mempunyai pemikiran untuk mendiirkan sebuah software house atau sebuah peternakan lele. Kenapa peternakan lele jawabannya sangat mudah sekali , karena saya suka makan lele. Disamping itu juga, kebutuhan lele di Indonesia masih kurang, bisa di lihat dari banyaknya warung makan lele di pinggir jalan.

Dah akh capek ngetik terus, saatnya mengerjakan tesis yang masih jalan ditempat. 화이팅 (Hwaiting)

One thought on “hidup anti mainstream

  1. hidup anti mainstream!
    tapi jalanin hidup yang anti-mainstream saya malah dikatain alien.. asdfghj haha xD
    tulisannya keren 😀 (walopun terasa nanggung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website