Tips mencari beasiswa

Saya nemu informasi menarik dari milis beasiswa mengenai tips2 untuk mencari beasiswa. Saya sendiri saat ini mendapat beasiswa research dari salah satu kampus di Korea. Mungkin info berikut bisa membantu para pencari beasiswa. Selamat berjuang 😀

Excellent student?

Banyak orang menyangka kalau mau dapet beasiswa IPK-nya harus tinggi, kalo bisa setinggi langit, tapi kenyataannya tidak demikian. Banyak penerima beasiswa yang IPK-nya biasa-biasa saja tetap dapat beasiswa. Meskipun beberapa beasiswa mensyaratkan pendaftarnya adalah mahasiswa berprestasi, IPK bukannya hal yang utama, masih ada beberapa komponen lain yang diperhitungkan. Memang sih biasanya IPK yang menjadi komponen yg penting di seleksi awal, tapi kan masih ada wawancara. Kalau ada beberapa beasiswa seperti HSP Huygens yang mensyaratkan pendaftarnya haruslah top 5% lulusan
terbaik di angkatannya, ini hanya buat jiper yang daftar saja. Ini lumayan buat nge-cut jumlah applicants, kalau tidak tentu saja banyak yang daftar. Saya pernah bertemu dua mahasiswa yang mendapat HSP Huygens tapi IPK-nya dua koma sekian sekian. Jadi, kalau ada persyaratan seperti ini daftar saja, setidak-tidaknya telah mencoba.

You are an excellent student: you have obtained excellent results in all your previous studies and you are at least in the top 5% of students in your study or research programme. Please show this in your application file by including, for example, grade lists or reference letters. In case of equivalent qualification preference will be given to applications which show that you are among the top 5%


Pengalaman kerja

Beasiswa seperti yang diberikan STUNED dan Depkominfo mensyaratkan pengalaman kerja minimal dua tahun. Kadang-kadang kita harus jeli membaca, syarat tersebut bukan harga mati. Seperti untuk beasiswa depkominfo yang tertulis ¡ÈDiutamakan memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun¡. Diutamakan bukan berarti harus. Jadi, bisa saja ada yg pengalaman kerja-nya kurang dari dua tahun keterima. Dua teman saya yang memperoleh beasiswa Depkominfo pengalaman kerjanya malah kurang dari dua tahun. Satu teman yang memperoleh beasiswa STUNED beberapa tahun lalu jg
pengalaman kerjanya kurang dari dua tahun. Padahal di website-nya NESO tertulis Program beasiswa StuNed dibuat khusus untuk para profesional Indonesia dengan masa kerja minimum dua tahun di tempat kerja terakhir. Mungkin aja sih peraturan 6 tahun yang lalu berbeda dengan sekarang.

Ada beasiswa seperti beasiswa untuk program Erasmus Mundus (International Master in Industrial Management) yang melihat pengalaman kerja yang relevan untung program ini sebagai merit atau nilai tambah di dalam proses seleksi. Jadi, pengalaman kerja tidak selalu menjadi harga mati. Tapi, pas kuliah master, akan kerasa kalau pengalaman kerja itu (terutama yg relevan) sangat membantu memahami materi.

Waktu lulus

Kalau biasanya beasiswa mencari mahasiswa yang sudah mempunyai pengalaman kerja setidaknya dua tahun, ada beasiswa yang malah kebalikannya. Beasiswa HSP Huygens malah mensyaratkan pendaftarnya masih kuliah di tingkat akhir, atau jika sudah lulus, waktu kelulusannya itu tidak lebih dari satu tahun, jadi bener-bener nyari fresh-graduate.

If you are already a graduate, you must have graduated less than one year ago

Batas Umur

Syarat ini yang biasanya agak tricky. Biasanya 35 tahun adalah batas atas buat memperoleh beasiswa master, misalnya beasiswa STUNED, beasiswa Depkominfo dan beasiswa Monbukagakusho. Sampai sekaraang sih belum pernah tahu adakah yg pernah melewati batas umur ini dan lewat seleksi beasiswa. Syarat ini yang biasanya agak tricky. Biasanya 35 tahun adalah batas atas buat memperoleh beasiswa master, misalnya beasiswa STUNED, beasiswa Depkominfo dan beasiswa Monbukagakusho. Sampai sekaraang sih belum pernah tahu adakah yg pernah melewati batas umur ini dan lewat seleksi beasiswa.

Surat Rekomendasi

Ini salah satu tipe surat yang penting dalam mendaftar beasiswa. Biasanya surat rekomendasi yang mempunyai kop universitas lebih “nendang” buat panitia seleksi. Posisi pemberi beasiswa juga
termasuk hal yang penting, setidaknya ketua program studi/ketua jurusan dan kalau bisa dekan fakultas. Lebih keren lagi kalau dapet surat rekomendasi dari rektor. Tapi kadang-kadang ada juga pemberi beasiswa yang mensyaratkan surat rekomendasi ini harus mengikuti format mereka dan ditulis di form yang mereka bikin, misalnya beasiswa Panasonic. Minta surat rekomendasi ini agak-agak tricky, karena kita butuh beberapa surat rekomendasi untuk beberapa universitas dan beasiswa yang berbeda. Trick-nya: minta surat rekomendasi ber-kop surat universitas yg general dan minta beberapa buah. Cara lainnya adalah men-scan surat rekomendasi ini dan di-print warna buat aplikasi beasiswa/ universitas. Kalau mereka minta yang asli, barulah yang asli diserahkan. Biasanya pemberi beasiswa meminta nomor telepon dan email professor/dosen yang memberi rekomendasi ke kita tercantum di surat rekomendasi tersebut.

Surat Nominasi

Ada beasiswa yang mensyaratkan pelamar beasiswa untuk menyerahkan surat nominasi dari universitas yang dituju agar bisa mendaftar beasiswa tersebut. Ini dilakukan sebagai pra-syarat untuk mendaftar beasiswa, contohnya beasiswa HSP Huygens untuk melanjutkan studi ke Belanda. Jadi, peserta harus meminta surat nominasi ini ke universitas yang dituju dan surat ini menjelaskan tentang kualitas unik/khusus pelamar dan program studi yang dituju oleh pelamar. Kalau universitas yang dituju tidak memberikan surat nominasi ini, artinya si pelamar tidak bisa mendaftar beasiswa HSP Huygens dan harus mencari beasiswa yang lain.

Letter of Acceptance (from a Japan University Professor)

Ada surat nominasi ada pula surat penerimaan (letter of acceptance). Biasanya beasiswa yang meminta Letter of Acceptance ini beasiswa untuk melanjutkan studi ke Jepang, misalnya Panasonic Scholarship. Surat penerimaan dari seorang Professor di Jepang yang mau menerima anda di laboratory dia merupakan salah satu syarat dari Panasonic Scholarship. Di seleksi tahap akhir, selain presentasi proposal riset, para finalis Panasonic Scholarship juga diminta untuk memberika “Formal Recommendation” atau LoA (Letter of Acceptance) from Japan University Professor.

Wawancara

Hampir semua beasiswa yang saya tahu ada komponen wawancara di tahap akhir seleksi. Wawancara ini bisa berbagai jenis: wawancara psikologi, wawancara panel, etc. Pertanyaannya pun bisa dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris atau bahasa Jepang (kalau mau kuliah ke Jepang). Pertanyaan umumnya tentang motivasi kuliah S2 di luar negeri, topik riset yang spesifik yang akan diambil disana, bayangan 10 tahun ke depan mau jadi apa, etc. Meskipun kadang-kadang wawancara ngelantur ke mau menikah di usia berapa, kalau bayi kamu lahir mau diapain (pertanyaan ke salah satu peserta yang
lagi hamil gede, langsung sama peserta tsb dijawab: ya dirawat Pak), siapa perdana menteri Jepang?

Meskipun demikian ada dua beasiswa yang sepanjang pengetahuan saya tidak melakukan wawancara dan hanya bergantung dengan seleksi dokumen: Beasiswa Erasmus Mundus-nya Uni-Eropa dan Beasiswa HSP Huygens-nya Belanda. Jadi keterima tidaknya pelamar hanya tergantung pada berkas-berkas aplikasi yang dikirimkan.

Test-test kemampuan (TOEFL, IELTS, TPA, GRE, GMAT, etc)

Diantara test-test ini, TOEFL merupakan test yang paling sering dipakai. TOEFL atau Test Of English as Foreign Language mengukur kemampuan bahasa inggris peserta test ini. Ada lagi yang namanya IELTS (International English Language Testing System) yang juga mengukur kemampuan berbahasa inggris peserta test. Bedanya terletak dari afiliasi pemberi test ini. TOEFL ini afiliasinya ke Amerika Serikat (Educational Testing Services di Princeton US) sedangkan IELTS afiliasinya ke Inggris (diurus bareng-bareng oleh University of Cambridge ESOL Examinations, the British Council and IDP Education Pty Ltd). Biasanya syarat minimal TOEFL 55o sedangkan IELTS 6.5.

Selain test bahasa inggris ada lagi test kemampuan. Test Potensi Akademik (TPA) merupakan test kemampuan versi Indonesia, sedangkan GRE (Graduate Record Examinations) dan GMAT (Graduate Management Admission Test) merupakan test kemampuan versi Amerika. GMAT biasanya digunakan kalau ingin mendaftar S2 ke bidang bisnis.

Essay

Biasanya essay ini bercerita tentang studi S1 kita, motivasi mengikuti beasiswa ini. Essay ini harus menghubungkan latar belakang studi dan pekerjaan saat ini dengan rencana studi S2, karir dan visi ke depan dari pelamar. Kalau IPK, TOEFL dan nilai-nilai test yang lain bisa dibilang tidak akan banyak berubah, essay ini selalu bisa direvisi berkali-kali. Essay ini pula-lah yang menjadi salah satu factor penting (menurut saya bahkan lebih penting dari IPK) untuk menentukan pelamar mana yang akan masuk ke tahap berikut. Jadi, alokasikanlah waktu yang banyak untuk essay ini dan mintalah ke teman yang jago bahasa inggris untuk proof read essay anda.

Paperworks

Biasanya ini yang paling gampang sekaligus paling makan waktu. Biasanya dokumen-dokumen yang dibutuhkan adalah fotokopi ijazah dan transkrip nilai yang telah dilegalisir (termasuk versi bahasa inggrisnya), sertifikat TOEFL/IELTS/GRE/GMAT/TPA, CV yang kadang-kadang perlu memakai format yg ditetapkan pemberi beasiswa, fotokopi paspor, foto, etc.

Informasi tambahan

Biasanya pas nyari2 beasiswa itu agak ngawang2, paling afdol kalo punya kenalan senior / teman yg udah kuliah di universitas incaran. Beasiswa2 yg jarang kita dengar di Indonesia teman/senior ini tahu. Bisa juga kontak International Office univ ybs, tanyain ada mahasiswa indonesia di jurusan incaran atau nggak.

PPI – Perhimpunan Pelajar Indonesia

Ini bisa jadi tempat buat bertanya. Meskipun bbrp milis PPI keanggotaannya tertutup dan hanya akan diterima jadi anggota jika sudah ada acceptance letter dari univ, ada bbrp pengurus PPI yg berbaik hati
buat ditanya2. Google buat cari contact info mereka. Jika ada PPI yg keanggotaannya tertutup, coba minta tolong temen yg jadi anggota forward pertanyaan kita ke milis PPI tsb.

Semoga sharing ini berguna. salam dari benua biru

Ronald
Sumber : http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/message/40818

2 thoughts on “Tips mencari beasiswa

  1. Thanks atas infonya kak ^^
    saat ini saya sedang mencoba mempersiapkan diri untuk ikut KGSP tahun depan
    yang ingin saya tanyakan,
    apakah ranking universitas mempengaruhi dalam penempatan mahasiswa?
    saya sedang stuck di bagian study plan karena saya masih belum kepikiran tentang research apa kedepannya ada saran?

    terima kasih sebelumnya 🙂

    • untuk study plan lebih baik berhubungan sama tugas akhir S1. atau hasil pengembangan dari tugas akhir. saya juga merasa kesulitan nulis study plan. jadi saya bikin secara umum saja. kalo saya tertarik belajar bidang x dan ingin menjadi dosen dengan melanjutka pendidikan saya ke jenjang yg lebih tinggi.

      rangking universitas sepertinya tidak ada masalah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website