Perbedaan Copyleft dan Copyright

Lebih dari sebulan UU No. 19/2002 tentang Hak Cipta diberlakukan, keterkejutan masyarakat dan dunia usaha masih terasa. Para penjual komputer sepi pengunjung. Konsumen menahan diri untuk membeli komputer karena harga software yang selama ini didapatkan secara gratis dari hasil bajakan, sekarang harus dibeli. Akibatnya, harga komputer plus software-nya bisa-bisa naik dua kali lipat dari harga semula.

Pemberlakuan UU Hak Cipta telah mengubah perilaku konsumen dan dunia, meskipun belum signifikan. Hak cipta dalam bahasa Inggris disebut copyright. Kini, seiring pemberlakukan UU Hak Cipta, istilah copyleft yang pernah dikenal sebelumnya muncul kembali — sebagai “bentuk perlawanan” terhadap copyright. Penggunaan istilah copyleft sendiri terjadi karena right berarti “kanan”, sementara left berarti “kiri”.

Tetapi, hal itu tidak berarti copyleft menentang perlindungan terhadap hak cipta seseorang. Justru copyleft memanfaatkan aturan copyright untuk tujuan yang bertolak belakang. Artinya, jika copyright bertujuan melindungi kepemilikan pribadi dari pembajakan, copyleft sebaliknya karena tidak berambisi menjadikannya sebagai milik pribadi, tetapi justru menginginkan agar perangkat lunak itu tetap bebas (free software).


Situs GNU yang menjadi referensi banyak penganut copyleft menjelaskan bahwa copyleft merupakan metode umum untuk membuat sebuah program menjadi perangkat lunak bebas, serta menjamin kebebasannya untuk semua modifikasi dan versi-versi berikutnya.

Jika berniat baik, penggunaan secara bebas sebuah program dapat menjadi sarana saling berbagi program serta melakukan perbaikan. Namun, tanpa niat baik, ada kemungkinan pihak perantara melakukan perubahan pada program tersebut lalu menjadikannya perangkat lunak berpemilik (proprietary). Dengan sedikit atau banyak perubahan, program tersebut dapat didistribusikan kembali sebagai perangkat lunak berpemilik.

Copyleft ditandai dengan meletakkan perangkat lunak public domain. Namun, agar tidak terjadi penyalahgunaan, diupayakan sebuah sistem copyleft yang menegaskan bahwa siapa pun yang mendistribusikan kembali perangkat lunak tersebut, dengan atau tanpa perubahan, harus memberikan kebebasan untuk menggandakan dan mengubahnya. Copyleft menjamin bahwa setiap pengguna memiliki kebebasan.

Menurut konsultan hukum Muhammad Aulia Adnan, untuk meng-copyleft-kan sebuah program, pertama-tama akan diupayakan perolehan hak cipta atas program tersebut. Lalu ditambahkan ketentuan distribusi sebagai perangkat sah yang memberikan hak kepada setiap orang untuk menggunakan, mengubah, dan mendistribusikan kembali kode program atau turunannya.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara copyleft dengan copyright. Para pengembang perangkat lunak berpemilik menggunakan hak cipta untuk menghilangkan kebebasan para pengguna, sementara para penganut copyleft menggunakan hak cipta untuk menjamin kebebasan para pengguna, termasuk mendistribusikan dan menggandakannya. Itulah sebabnya mengapa istilah copyright (hak cipta) dipelesetkan menjadi copyleft.

Ini pula perbedaan copyleft dengan copyright. Penggunaan free software dapat digandakan tanpa harus mendapat izin khusus dari pencipta atau pemegang hak ciptanya bukanlah sebuah tindak pembajakan. Yang harus diperhatikan hanyalah pengguna free software itu harus patuh terhadap aturan general public license (GPL) yang menghendaki setiap pendistribusian ulang perangkat lunak berstatus copyleft haruslah tetap bebas.

Ketidakpastian dari segi hukum bisa menyebabkan perusahaan bimbang menggunakan program komputer berbasis free software. Kepastian hukum itu terutama dalam bidang hak cipta berkaitan dengan aspek penggunaan dan juga pengembangan free software dapat menjadi suatu insentif dalam perkembangan beragam free software di Indonesia.

Aulia Adnan melalui situs DWKL (www.dariwindowskelinux.) mengatakan bahwa pencipta sebagai pemilik hak cipta atas program komputer yang dibuatnya dapat memberikan hak kepada pihak lain untuk menggunakan/menyebarluaskan/memodifikasi program komputer buatannya dengan menggunakan mekanisme lisensi (Pasal 45 ayat 1 dan pasal 2 ayat 1 Undang-undang No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta).

Menurutnya, lisensi merupakan perangkat hukum yang berbeda jika dibandingkan dengan pengalihan hak cipta. Pihak yang mendapatkan lisensi program komputer bukan merupakan pemilik dari program komputer. Lisensi hanyalah sebuah izin yang diberikan oleh pemilik hak cipta kepada pihak lain untuk menggunakan beberapa hak yang dimiliki oleh pencipta dan sama sekali bukan merupakan pengalihan pemilikan atas hak cipta.

“ Pencipta tetap pemilik hak cipta sepanjang hak cipta tersebut belum dialihkan. Pencipta, kecuali diatur sebaliknya, tetap dapat menjalankan berbagai hak-hak yang dimilikinya. Hak ini misalnya dalam hal terjadinya pelanggaran atas hak cipta, maka pihak yang berhak melakukan penuntutan adalah pihak pencipta dan bukan pihak penerima lisensi,” ujar Aulia Adnan.

GPL merupakan mekanisme pemberian lisensi atas sebuah program komputer. Penggunaan mekanisme lisensi GPL menyiratkan bahwa pendapat yang mengatakan bahwa pemanfaatan open source bertentangan dengan hak cipta sama sekali tidak benar. Karena, GPL tetap menggunakan mekanisme perlindungan hukum berupa hak cipta serta menggunakan mekanisme lisensi dalam menyebarluaskannya.

Menurut Ketua Knowledge Management Research Group (KMRG) Institut Teknologi Bandung (ITB), Ismail Fahmi, UU Hak Cipta justru memberi ruang gerak yang lebar kepada kedua belah pihak tersebut untuk saling mengembangkan diri secara bebas. “Pemberlakuan UU Hak Cipta akan semakin mendukung semangat kedua belah pihak, baik yang berpegang kepada copyright maupun copyleft. Masing-masing pihak mendapat angin segar untuk berkarya dan menciptakan pengetahuan. Pada akhirnya, masyarakat yang akan mendapat keuntungan,” ujar Ismail.
Kelebihan Open Source

Menurut tim DWKL, ada beberapa kelebihan solusi open source dibanding solusi tertutup yang perlu dipertimbangkan para calon pengguna, antara lain tidak terikat dengan vendor tertentu, dapat diandalkan, aman, dan gratis.

“ Dengan solusi open source, Anda bisa bebas memilih vendor karena punya akses ke source code. Implikasinya, aplikasi yang akan dikembangkan dapat sesuai dengan kebutuhan. Kalau solusi tertutup, semuanya tergantung vendor yang bersangkutan,” jelas tim DWKL.

Selain itu, solusi open source juga diklaim DWKL terbukti berfungsi stabil dan dapat diandalkan. Ini antara lain karena source code dapat diakses siapa pun sehingga tidak ada kekurangan sekecil apa pun yang bisa disembunyikan oleh pembuatnya. Kondisi itu akan memicu para pembuat program bekerja dengan maksimal daripada harus menanggung risiko menjadi bahan tertawaan umum karena program ciptaannya berkualitas buruk.

DWKL juga berpendapat, source code yang dapat diakses secara terbuka bukan malah menjadikan sistem ini tidak aman karena justru karena itu keamanan yang longgar akan dapat ditemukan dan segera diperbaiki. Hitungan waktu perbaikan bisa dilakukan sesegera mungkin, bahkan saat itu juga.

“Masalah security bisa segera ditemukan dan diketahui. Kalaupun ada security hole, terkadang hanya dibutuhkan beberapa jam untuk membetulkannya. Ini tidak pernah terdengar pada solusi tertutup,” tulis tim DWKL.

Salah satu bagian penting dari open source adalah bisa diperoleh secara cuma-cuma. Secara moral dan hukum, penggunaan barang bajakan adalah salah dan dapat dikenai sanksi pidana. Pemanfaatan open source justru akan menghindari masyarakat terkena tudingan melakukan pembajakan.•

Di mata Ismail, jika tidak ada perlindungan hak cipta, semangat untuk mencipta pengetahuan mungkin akan terbatas, karena kita tidak bisa memaksa semua orang untuk setuju dan rela menyebarkan pengetahuannya secara “cuma-cuma” alias gratis. Sebagian mereka membutuhkan perlindungan ini, karena dalam proses penciptaannya membutuhkan pengorbanan yang besar (waktu, tenaga, pikiran dan dana) dan agar bisa terus berkarya, mereka perlu mendapatkan insentif (reward) dari karyanya.

Jadi, tegas pendiri jaringan perpustakaan digital pertama di Indonesia (Indonesian Digital Library Network) ini, bukan hanya penyebaran pengetahuan yang penting, tetapi juga penciptaan pengetahuan harus dirangsang dan ditumbuhkan. Dengan UU Hak Cipta, pihak copyright akan semakin semangat berkarya, tidak takut karyanya dibajak, atau gigit jari melihat sekelompok pembajak diuntungkan.

“Sementara pihak yang mendukung copyleft, juga mendapat alasan yang kuat untuk semakin mempromosikan gagasan, produk, dan solusi copyleft. Khususnya bagi masyarakat yang tidak mampu membeli lisensi,” ujar Ismail. Pergerakan copyleft dapat membantu mengurangi tindak pembajakan terhadap software berlisensi terbatas. Pemberlakuan UU Hak Cipta sebagai salah satu upaya penegakan hukum akan membuat orang berpikir beberapa kali sebelum memutuskan untuk membajak sebuah produk.

“Mereka yang tidak setuju copyright, akhirnya menjadi lebih cerdas dengan menggunakan open source (sumber yang bebas digunakan). Kalau benar-benar ingin mencari solusi yang legal, saya kira open source sudah bisa menggantikan yang bukan open source,” ujarnya.

Ismail menolak penilaian bahwa open source lebih rumit digunakan daripada aplikasi Windows yang sudah sepuluh tahun lebih dulu populer misalnya. Apalagi, kini pun sudah banyak aplikasi open source untuk berbagai keperluan sehari-hari. “Rumit atau tidak itu relatif. Menjadi rumit karena seseorang sudah terbiasa dengan solusi sebelumnya. Jika seseorang yang sama sekali belum mengerti kedua solusi itu lalu diperkenalkan kepada keduanya, tidak ada yang rumit untuk open source. Umumnya orang malas berubah atau malas belajar hal-hal baru,” jelasnya.

Salah satu open source yang populer adalah Linux, bahkan ada situs berbahasa Indonesia yang mengampanyekan penggunaan open source sebagai bentuk migrasi dari Windows. Namanya Dariwindowskelinux.com (DWKL). Situs yang dibuat dalam rangka menyambut UU Hak Cipta itu menampilkan berbagai panduan rinci, saran-saran praktis, dan berbagai artikel untuk membantu pembacanya hijrah ke solusi open source. Menariknya, solusi yang ditawarkan tidak terbatas hanya ke Linux.

Nampaknya, pemberlakuan UU Hak Cipta akan memicu persaingan yang semakin ketat antara solusi close source versus open source. Sepanjang kompetisi berlangsung fair, konsumenlah yang akan diuntungkan.

Source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website